Selasa, 07 Juni 2011

Kesabaran

Seorang anak mengeluh pada ayahnya. "Aku capek, Sangat capek! aku belajar mati matian sedangkan teman temanku dengan leluasa mencontek! Aku capek karena harus terus terusan membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, sedangkan teman temanku mempunyai pembantu! Aku capek harus terus menabung sedangkan teman temanku dengan bebasnya berjajan dan menghabiskan uangnya! Aku capek harus menjaga lisan ku, sedangkan teman temanku berkata sesuka hati mereka sehingga menyinggung dan menyakiti hatiku! Aku lelah ayah, AKU CAPEK!" kata sang anak, seraya berteriak dan menangis di hadapan sang ayah. Lalu, sang ayah mengusap lembut kepala anaknya dan berkata "Baiklah nak, sekarang kita bersiap siap. lalu kamu ikut dengan ayah." Lalu sang anak pun berpakaian rapi dengan kemeja kesukaannya dan sepatu yang dibelikan sang ayah beberapa waktu lalu. Berangkatlah kedua ayah dan anak itu ke suatu tempat. Mereka melewati jalan yang berlumpur, kotor, banyak dihuni oleh serangga dan pohon berduri. Sehingga, sang anak senantiasa memaki dan bertanya kepada sang ayah. "Ayah! kemana kita akan pergi? aku tidak bisa melewati jalan berlumpur ini! lihatlah ayah, sepatuku kotor oleh lumpur! dan kemeja kesayanganku terobek oleh pohon berduri!" sang ayah hanya tersenyum, dan menghela nafas. Jauh mereka telusuri jalan berlumpur nan sempit itu, dan sampailah mereka di suatu tempat. Sang anak terenyak! meloncat kaget! seakan tak percaya. Di penghujung jalan itu ternyata terletak sebuah danau yang sangat indah, asri, sejuk dan nyaman. Serta ditumbuhi oleh bunga bunga nan indah bertebaran di sekitar danau. Kupu-kupu berterbangan menghampiri sang anak, seakan mengajak anak itu bermain bersama. "Inilah tempat yang ayah ingin tunjukan kepadamu. Sebenarnya, sudah banyak orang yang mengetahui danau ini. Namun, kamu tau mengapa tempat ini begitu sepi? karena orang orang tersebut tidak ingin melewati jalan yang berlumpur dan berduri tadi. Mereka tidak bisa tekun dan bersabar melewati jalan yang tadi kita lewati." sang anak pun segera memeluk ayahnya seraya berkata "Ayah, terima kasih telah mengajarkanku tentang indahnya bersabar."


Cerita diatas saya dapatkan dari kedua orang tua saya. Ayah dan bunda yang sangat menyayangi saya. Dua orang yang menginginkan anak-anak nya mendapatkan yang terbaik. Menjadi generasi yang berkualitas dan dapat memberikan yang terbaik kepada semua orang. Terima kasih Ayah, bunda. kami menyayangimu.


R. Bambang Tri Nugraha Widjanarko Wargadiwidjaja & Aan Andriyatin

1 komentar:

  1. Amr, Hidup adalah Perjuangan untuk mengendalikan dan mengalahkan diri sendiri, maka Kesabaran adalah Senjatanya.

    BalasHapus